Di ruang kelas
bangku disusun lurus,
pertanyaan dibatasi garis,
jawaban sudah ditentukan
sebelum pikiran sempat berjalan.
Kami diajari diam yang rapi,
mengangguk pada papan tulis,
menyimpan ragu di saku seragam,
takut salah lebih besar
daripada ingin tahu.
Nilai menjadi kompas,
bukan makna.
Angka dipuja,
akal ditunda.
Yang berbeda dianggap gangguan,
yang patuh disebut teladan.
Guru berbicara,
waktu berlari,
pikiran tertinggal di belakang.
Diskusi jadi formalitas,
berpikir kritis sekadar istilah
di halaman kurikulum.
Kami lulus dengan ijazah,
namun gagap bertanya.
Pandai menghafal aturan,
bingung membaca kenyataan.
Pendidikan,
jika hanya melatih taat tanpa sadar,
kita mencetak barisan,
bukan manusia merdeka.
Sampai kapan
patuh lebih aman
daripada berpikir?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar