Sabtu, 03 Januari 2026

Kurikulum Berganti, Mutu Tak Pernah Pasti

 Pak Rahman sudah mengajar lebih dari dua puluh tahun. Ia hafal betul perubahan di papan tulis kelasnya, bukan hanya coretan kapur, tetapi juga nama kurikulum yang silih berganti. Setiap beberapa tahun, datang lagi surat edaran: penyesuaian, penyempurnaan, pembaruan. Istilahnya berbeda, semangatnya terdengar besar. Namun ruang kelas Pak Rahman tetap sama—bangku kayu yang menua, murid dengan rasa ingin tahu yang pelan-pelan melemah.

Suatu pagi, Pak Rahman berdiri di depan kelas sambil memegang buku pegangan baru. Sampulnya masih kaku, baunya masih segar. Ia diminta mengajar dengan pendekatan berbeda: lebih aktif, lebih kreatif, lebih kontekstual. Di atas kertas, semuanya tampak indah. Murid didorong berpikir kritis, guru menjadi fasilitator. Namun di lapangan, waktu tetap terbatas dan jumlah siswa tetap padat.

Di bangku belakang, Sinta memperhatikan penjelasan itu sambil bertanya dalam hati. Tahun lalu ia belajar dengan cara berbeda, tahun ini berubah lagi. Istilah dan format tugas berganti, tetapi kebingungannya tetap sama. Ia merasa selalu harus menyesuaikan diri, tanpa pernah benar-benar memahami tujuan dari semua perubahan itu.

Orang tua pun ikut bingung. Rapor berubah bentuk, penilaian berganti istilah. Mereka diminta terlibat lebih aktif, tetapi tak pernah benar-benar diberi pemahaman utuh. Yang mereka tahu hanya satu: anak harus tetap berprestasi, apa pun kurikulumnya.

Pak Rahman menyadari satu hal sederhana. Masalah utama bukan pada kurikulum lama atau baru, melainkan pada kesiapan menjalankannya. Guru sering tidak diberi waktu cukup untuk belajar. Sekolah tidak selalu memiliki fasilitas yang mendukung. Pelatihan datang singkat, lalu tuntutan langsung tinggi.

Di ruang guru, obrolan hampir selalu sama. “Kurikulumnya bagus, tapi pelaksanaannya berat.” Kalimat itu berulang, tahun demi tahun. Mutu pendidikan pun terasa menggantung—kadang diharapkan naik, tapi sering tak pernah benar-benar pasti.

Pak Rahman akhirnya memilih sikap sederhana. Ia tetap mengajar dengan hati-hati, berusaha memahami muridnya, apa pun nama kurikulumnya. Ia percaya, mutu pendidikan bukan lahir dari dokumen tebal, melainkan dari proses belajar yang jujur dan manusiawi.

Selama kurikulum terus berganti tanpa kesiapan dan refleksi, cerita di kelas Pak Rahman akan terus terulang. Nama berubah, format berubah, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama: kapan mutu benar-benar menjadi tujuan, bukan sekadar janji?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tidak Pernah Benar-Benar Netral

  Pendidikan sering dipahami sebagai proses objektif untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan. Ia dibayangkan berdiri di atas nilai-ni...