Sabtu, 03 Januari 2026

Anak Desa Bersaing Global: Mitos atau Keniscayaan?

 Tentu saja anak desa bisa bersaing di tingkat global. Brosurnya bilang begitu. Pidatonya juga. Bahkan spanduk di depan sekolah dasar yang catnya mulai mengelupas masih berani menulis: “Menuju Generasi Unggul Berdaya Saing Internasional.” Unggul di mana, bersaing dengan siapa, itu soal nanti.

Di desa, jaringan internet sering datang seperti tamu tak diundang: muncul sebentar, lalu menghilang tanpa pamit. Tapi jangan khawatir, kata para pengambil kebijakan, keterbatasan justru melahirkan kreativitas. Anak desa dilatih sabar menunggu sinyal—sebuah soft skill global yang katanya penting di abad ke-21.

Sekolah desa juga tak kalah modern. Gedungnya mungkin retak, perpustakaannya sunyi karena bukunya lebih tua dari gurunya, tapi semangatnya global. Kurikulum internasional? Tenang, namanya lokal tapi isinya tetap padat dan membingungkan. Anak-anak diminta berpikir kritis, tentu saja setelah menghafal semua definisi yang jawabannya sudah disediakan.

Lomba-lomba internasional pun terbuka lebar. Syaratnya sederhana: punya laptop pribadi, kuota stabil, bimbingan intensif, dan orang tua yang paham sistem. Jika tak punya, itu bukan masalah sistem—itu kurangnya daya juang, kata motivator.

Para pejabat senang memamerkan satu dua kisah sukses. Anak desa yang menembus dunia global diangkat ke panggung, difoto, lalu dijadikan bukti bahwa semua bisa asal mau berusaha. Ribuan anak desa lain yang gugur di tengah jalan? Itu statistik yang tak cukup inspiratif untuk diposting.

Yang menarik, anak desa diminta bersaing secara global, tapi hidup dalam lokal yang setengah diurus. Akses pendidikan timpang, guru terbatas, fasilitas seadanya. Namun targetnya tetap tinggi. Dunia menunggu, katanya. Dunia yang bahkan belum pernah mereka lihat kecuali dari layar ponsel retak.

Jadi, anak desa bersaing global: mitos atau keniscayaan? Jawabannya tergantung siapa yang ditanya. Bagi yang duduk di kota dengan akses lengkap, ini keniscayaan yang manis. Bagi anak desa, ini mitos yang terus diulang agar terdengar seperti harapan.

Mungkin suatu hari, anak desa benar-benar bersaing global. Tapi hari itu baru masuk akal jika desa tidak lagi dijadikan latar belakang pidato, melainkan titik awal kebijakan. Kalau tidak, globalisasi hanya akan jadi panggung besar—dan anak desa tetap penonton setia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tidak Pernah Benar-Benar Netral

  Pendidikan sering dipahami sebagai proses objektif untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan. Ia dibayangkan berdiri di atas nilai-ni...