Selasa, 06 Januari 2026

Politik Identitas: Jalan Pintas yang Merusak Masa Depan

 

Politik identitas kerap muncul setiap musim pemilu tiba. Ia hadir sebagai jalan pintas: mudah, cepat, dan emosional. Dengan membagi masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, atau golongan, dukungan bisa dikumpulkan tanpa harus bersusah payah menawarkan gagasan, program, dan solusi nyata. Namun, kemudahan inilah yang justru menjadikannya berbahaya bagi masa depan demokrasi.

Dalam politik identitas, perbedaan tidak lagi diperlakukan sebagai kekayaan sosial, melainkan senjata. Identitas digunakan untuk menentukan siapa “kita” dan siapa “mereka”. Akibatnya, ruang dialog menyempit. Perdebatan kebijakan tergantikan oleh kecurigaan, prasangka, dan rasa takut kehilangan dominasi. Demokrasi yang seharusnya menjadi arena adu ide berubah menjadi arena adu sentimen.

Dampak paling nyata dari politik identitas adalah rusaknya kepercayaan sosial. Masyarakat terbelah bukan karena perbedaan pandangan rasional, tetapi karena label-label yang sulit dihapus. Luka sosial ini tidak berhenti setelah pemilu usai. Ia bertahan lama, merembes ke kehidupan sehari-hari, bahkan diwariskan ke generasi berikutnya dalam bentuk trauma dan ketidakpercayaan.

Lebih jauh, politik identitas memiskinkan kualitas kepemimpinan. Ketika identitas dijadikan modal utama, kompetensi menjadi nomor dua. Pemimpin tidak lagi diuji dari kapasitasnya mengelola negara, melainkan dari kemampuannya memainkan simbol dan emosi. Akibatnya, kebijakan publik sering kali dangkal, reaktif, dan tidak berorientasi jangka panjang.

Ironisnya, politik identitas sering dibungkus dengan klaim membela kelompok tertentu. Padahal, dalam praktiknya, kelompok yang dijadikan simbol justru jarang benar-benar diuntungkan. Setelah kekuasaan diraih, isu identitas ditinggalkan, sementara masalah mendasar—pendidikan, lapangan kerja, kesehatan, dan keadilan sosial—tetap tak terselesaikan.

Masa depan yang sehat membutuhkan politik yang dewasa. Politik yang berani keluar dari godaan jalan pintas dan memilih jalur yang lebih sulit: membangun gagasan, merumuskan program, dan mengajak warga berpikir bersama. Identitas tetap penting sebagai bagian dari jati diri, tetapi tidak boleh dijadikan alat eksklusif untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Jika politik identitas terus dibiarkan, kita mungkin menang dalam satu pemilu, tetapi kalah dalam membangun bangsa. Masa depan tidak ditentukan oleh siapa kita dilahirkan, melainkan oleh keputusan apa yang kita ambil hari ini—apakah terus terjebak pada pembelahan, atau mulai menata politik yang lebih adil, rasional, dan berorientasi pada kepentingan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tidak Pernah Benar-Benar Netral

  Pendidikan sering dipahami sebagai proses objektif untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan. Ia dibayangkan berdiri di atas nilai-ni...