Ulasan ringkas:
Fenomena ini terjadi ketika desa memiliki sumber daya alam atau dana besar (tanah, tambang, pariwisata, dana desa), tetapi manfaatnya tidak dirasakan oleh warga. Penyebab utamanya adalah pengelolaan yang tidak adil, tata kelola lemah, dan elit lokal yang menguasai akses ekonomi. Kekayaan desa berubah menjadi angka, bukan kesejahteraan.
Contoh pelanggaran:
Dana desa digunakan untuk proyek formalitas (gapura, monumen) tanpa dampak ekonomi nyata.
Lahan desa disewakan ke investor, tetapi warga hanya menjadi buruh murah.
Hasil tambang atau wisata masuk ke kantong segelintir aparat desa, bukan kas bersama.
Intinya: desa terlihat kaya di laporan, tetapi miskin di dapur warga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar